BESAR PERAN KAUM MUDA INTELEKTUAL DAN SOSIAL MEDIA TERHADAP HAUSNYA MASYARAKAT KURANG MAMPU AKAN ILMU-ILMU
Menjadi bangsa yang memiliki citra yang baik
ialah keinginan dari semua negara di dunia, Indonesia merupakan negara
berkembang yang sedang membangun citra negara melalui segi perekonomiannya,
terbukti dengan banyaknya kerja sama Indonesia dengan beberapa negara dari
sektor ekspor dan impor. Tidak hanya dari sektor tersebut, Indonesia juga
membuka keran investasi asing guna menjalin kerja sama terhadap pihak asing dan
menambah investor asing untuk aktif dalam investasi di Indonesia. Walaupun pada
saat ini terhitung jumlah utang Indonesia sudah mencapai 4000 Triliun, namun
hal tersebut diharapkan akan berdampak jangka panjang untuk Indonesia yang
lebih berkembang. Salah satu dari adanya pemanfaatan utang negara ialah Infrastruktur,
pada sekarang ini, pemerintah sedang melakukan pembangunan yang merata guna
memberikan kemudahan akses untuk segala pendistribusian. Sebelumnya kita
melihat banyak akses di luar daerah metropolitan yang sulit untuk digapai
seperti di Kalimantan, Pulau yang memiliki tanah gambut ini cukup menyulitkan
akses para masyarakat yang ingin melintasinya, namun semenjak program
pemerintah berjalan jalanan yang berada di perbatasan antara Indonesia dengan
Malaysia sudah mulai di perbaiki, hal ini tentunya diharapkan akan berpengaruh
terhadap aspek ekonomi dan sosial untuk jangka panjang kedepannya.
Selain sektor ekonomi, satu hal yang paling
penting menurut saya ialah aspek sosial. Dimana didalamnya bahasan yang paling
pokok merupakan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Indonesia sendiri menurut
data dari BPS (Badan Pusat Statistik), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana
suatu presentase yang di cari oleh suatu metode tertentu, guna melihat keadaan
kualitas SDM disetiap daerah tersebut. IPM ini masih terpusat di Ibukota DKI
Jakarta sebesar 79,60%, di ikuti oleh Daerah Istimewa Yogjakarta sebesar
78,38%, Kalimantan Timur 74,59%, Kep. Riau 73,99% dan beberapa daerah seperti
Sumatera Barat, Riau, Banten, Sulawesi Utara, yang rata rata presentase Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) nya sekitar 70% keatas. Dan masih tersisa provinsi
yang IPM nya tersebut dibawah 70% dan provinsi tersebut lebih banyak dari provinsi
yang memiliki rata-rata diatas 70%, yang berarti bahwa Indonesia secara
menyeluruh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masih terbilang dibawah standar
atau kurang. Dan melihat dari data tersebut, kualitas SDM yang memiliki
rata-rata diatas 70% merupakan provinsi yang aktivitas ekonomi dan sosial nya
cukup baik dan terpusat, dimana provinsi yang sering disorot. Berbeda dengan provinsi
yang memiliki IPM yang rendah seperti NTT, NTB dan Papua. Provinsi tersebut memiliki
Sumber Daya Alam yang cukup kaya. NTT, Provinisi yang memiliki kekayaan Sumber
Daya Alam (SDA) yang cantik seperti Danau 3 warna atau Danau Kelimutu yang
sangat berpotensi untuk pariwisata lokal ataupun asing. NTB, memiliki potensi
wisata seperti Gunung Rinjani sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia
setelah gunung Jayawijaya, dan wisata yang paling sering dikunjungi wisata
lokal ialah Pantai Kuta Lombok, yang sangat berpotensi sebagai pariwisata para
turis asing. Presentase paling rendah terdapat pada Provinsi Papua, yakni
sebesar 58,05%. Padahal bila kita analisa kembali, wisata di papua cukup
menarik minat para turis asing untuk di kunjungi yakni Raja Ampat. Hal tersebut
merupakan salah satu contoh masalah yang ada di Indonesia, ketimpangan yang ada
di Indonesia yang perlu dibenahi, diseimbangkan, dan dikelola dengan baik untuk
mencapai keseimbangan aktivitas dari segala aspek.
Bela negara adalah sikap dan tindakan warga
negara yang dilandasi rasa cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara,
keyakinan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Pengertian ini memberi
kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk melakuan
aktifitas bela negara.
Setiap warga Negara berhak dan wajib ikut
serta dalam upaya pembelaan negara, demikian antara lain amanah UUD 1945.
Artinya setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan bela
negara tidak pandang laki-laki / perempuan, pekerjaan maupun profesinya, tua
maupun muda, sipil maupun militer.
Salah satu poin
paling penting dalam Bela Negara ialah Cinta terhadap Tanah Air, poin ini
mengandung beberapa indikator didalamnya yakni;
a. Menjaga tanah dan
pekarangan serta seluruh ruang wilayah Indonesia
b. Jiwa dan raganya
sebagai bangsa Indonesia
c. Memiliki jiwa patriotisme
terhadap bangsa dan negara
d. Menjaga nama baik
bangsa dan negara
e. Memberikan
konstribusi pada kemajuan bangsa dan negara
Pada poin terakhir, Memberikan
kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara adalah salah satu hal yang harus di
implementasikan oleh masyarakat Indonesia dalam Bela Negara. Memberikan
kontribusi bisa dilakukan dengan banyak hal, hal kecil seperti tidak bolos saat
pergi untuk sekolah pun termasuk dalam Bela Negara. Bela negara dapat dilakukan
kapan saja di mana saja, bisa pagi, siang maupun malam hari, di lingkungan
rumah tangga, masyarakat, instansi/tempat bekerja, di sekolah, di tempat
ibadah, di pasar, di dalam negeri maupun di luar negeri. Aktifitas bela negara
dari tataran yang paling halus bersikap positif terhadap Negara Kesatuan
Republik Indonesia sampai dengan yang paling kasar memerangi musuh yang
mengancam kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan Negara Indonesia.
Generasi Muda adalah generasi
penerus bangsa, yang memiliki andil yang cukup vital dalam melanjutkan kinerja
para pendahulunya yang pastinya diharapkan akan membawa Bangsa dan Negara ke
arah yang lebih baik lagi. Setiap pemuda harus mempersiapkan dirinya sedini
mungkin untuk mencapai kualitas yang memumpuni. Salah satunya ialah belajar.
Belajar apabila di definisikan itu luas, belajar tidak hanya semata-mata untuk
bidang akademis. Namun untuk meningkatkan keterampilan dan hal yang bisa membawa
dampak positif untuk dirinya dan sekitar juga merupakan peran dari belajar.
Kaum muda di Indonesia memiliki presentase yang cukup besar, yakni dimana kaum
perempuan yang berumur 10-24 tahun dan belum kawin memiliki presentase 87.99%,
sedangkan laki-laki yang berumur 10-24 tahun dan belum kawin memiliki
presentase sebesar 45,98%. Berbeda dengan kalangan kaum perempuan dan laki-laki
yang berumur diatas 24 yang sudah menikah dan belum menikah memiliki presentase
yang lebih rendah yakni sekitar 42,43% Hal
ini mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki harta yang patut di bekali oleh
ilmu yang bermanfaat untuk masa depan negara Indonesia untuk jangka panjang.
Sekitar 4,8 juta kaum muda yang berstatus sebagai Mahasiswa/i di
Indonesia, Mahasiswa merupakan kalangan kaum muda yang bisa disebut sebagai
Kaum Muda Intelektual, dimana Mahasiswa/i merupakan sebagai pemuda yang
terdidik, terpelajar, dan terbimbing untuk mengembangkan suatu pola pemikiran.
Apalagi melihat Mahasiswa/i sekarang yang sangat mudah mendapatkan segala
informasi dari penjuru dunia, yang bisa memberikan implikasi terhadap pemikiran
untuk para Mahasiswa/i dalam menganalisa suatu hal yang berkaitan dengan
kehidupan. Hal tersebut tidak lepas dari adanya kemajuan Teknologi, dimana
hampir seluruh sivitas akademi menggunakan smartphone yang sangat fleksible
menerima informasi dari berbagai bidang.
Seiring berjalannya waktu, teknologi
semakin muktahir dalam perkembangannya. Teknologi merupakan sebuah pengetahuan
yang ditujukan untuk menciptakan alat, tindakan pengolahan dan ekstraksi benda.
Istilah “teknologi” telah dikenal secara luas dan setiap orang memiliki cara
mereka sendiri memahami pengertian teknologi. Teknologi digunakan untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain
itu teknologi digunakan untuk memperluas kemampuan kita, dan yang membuat
orang-orang sebagai bagian paling penting dari setiap sistem teknologi. Teknologi itu dinamis, teknologi terus
dimajukan karena kebutuhan kita dan tuntutan untuk teknologi terus meningkat.
Kita telah pindah dari era industri (revolusi industri) ke era informasi.
Selama era industri, perusahaan dengan modal besar memiliki potensi menggunakan
alat-alat teknologi yang mahal untuk mendapatkan keunggulan kompetitif; usaha kecil
kurang memiliki potensi karena mereka tidak mampu dalam manufaktur atau
pengolahan alat teknologi mahal. Tapi, kemajuan teknologi telah menciptakan
lingkungan ekonomi baru yang tergantung pada informasi dan itulah yang kita
sebut sebagai "Information Age", era informasi yang menyediakan
lingkungan kerja yang berbeda dan ini telah membantu usaha kecil mendapatkan
posisi di pasar yang sangat kompetitif.
Salah satu dari yang dihasilkan oleh
teknologi yang paling melekat dalam aktivitas masyarakat dalam menggunakan
smartphone yakni Sosial Media. Sosial Media itu sendiri didefinisikan sebagai
suatu layanan berbasis web yang memungkinkan setiap individu untuk membangun
hubungan sosial melalui dunia maya seperti membangun suatu profil tentang
dirinya sendiri, menunjukkan koneksi seseorang dan memperlihatkan hubungan apa
saja yang ada antara satu pemilik dengan pemilik lainnya. Setiap kalangan yang
memiliki smartphone dipastikan memiliki aplikasi sosial media didalamnya
seperti twitter, facebook, instagram dan lainnya.
Sinergitas antara Bela Negara, Kaum Muda
Intelektual dengan Teknologi khususnya Sosial Media mempunyai keterkaitan dalam
menyokong dan memberikan suatu hal yang berdampak positif bagi masyarakat dan
negara di kemudian harinya dengan melakukan suatu aktivitas yang berkaitan
dengan bela negara, dimana terdapat poin penting yakni memberikan kontribusi
pada kemajuan bangsa dan negara yang terdapat dalam indikator dari Cinta Tanah
Air, berkaitan dengan hal tersebut, Kaum Muda Intelektual yang bisa dibilang
kuantitasnya cukup banyak dan menyebar di Indonesia dapat berperan penting
dalam Bela Negara yang dibantu dengan jejaring Sosial Media yang sangat vital
perannya dikalangan masyarakat dalam memberikan suatu informasi yang detil.
Tidak hanya memberikan suatu informasi yang detil, generasi muda berintelektual
juga bisa menjadi volunteer bagi pemerintah dalam pengembangan manusia
khususnya pada kaum kurang mampu, kaum kurang mampu di Indonesia sepengamatan
kacamata saya pribadi, dalam program pengambangan manusia di kalangan ini belum
tersentuh secara menyeluruh, di daerah-daerah pelosok yang jauh dari pusat kota
merupakan tempat dimana para kaum kurang mampu yang sangat jarang tersentuh
dari pemerintah. Maka dari situ saya pribadi beropini dalam hal ini,
Mahasiswa/i dari seluruh pelosok Indonesia berperan dalam pengembangan
masyarakat kurang mampu yang bersinergi dengan Teknologi khususnya Sosial
Media.
Dalam implementasinya, Mahasiswa/i yang ikut
dalam pengembangan manusia dari kaum masyarakat kurang mampu ini di labeli
dengan suatu program yang bernama Generasi Merpati (Mengajar dan Berbakti) atau
GM. Program ini tentunya perlu kerja sama dengan pemerintah, melihat program
ini cukup membantu pihak pemerintah dalam pemberdayaan manusia. Program ini
menargetkan dari kalangan yang benar-benar tidak mampu, tidak bersekolah,
memiliki pendapatan yang sangat rendah. Program ini memiliki Visi dan Misi
sendiri, Visi dari GM ini ialah “Mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia di
kalangan masyarakat kurang mampu, untuk bisa bersaing di dunia kerja”. Misi
dari GM antara lain;
Ø Meningkatkan kualitas keterampilan dari
kaum kurang mampu
Ø Menyadari potensi yang ada pada kaum
kurang mampu
Ø Menimbulkan minat membaca dan belajar,
serta memantapkan pola pikir
Sistematika dari program ini
dilakukan dengan mengumpulkan mahasiswa/i terlebih dahulu dari pusat kota
seperti contoh Jakarta. Mahasiswa/i yang berminat untuk menjadi volunteer
didaerah Jakarta dikumpulkan lalu membuat platform yang menjelaskan tentang
program GM ini di website, dan juga tak lupa untuk membuat jejaring Sosial Media yakni Twitter, Facebook
dan yang utama ialah Instagram, pada aplikasi ini Mahasiswa membuat akun yang
ditujukan untuk memberi informasi kepada Mahasiswa/i di penjuru Indonesia untuk
membuat program ini berjalan di setiap regionalnya, semisal regional Jakarta,
Bogor, Bekasi, Banten, Jogjakarta dan lainnya.
Program Generasi Merpati
(GM) ini berjalan selama 1 tahun dengan volunteer Mahasiswa/i yang di ubah juga
per tahunnya. Program ini dijalankan setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, satu
minggu 3 kali pertemuan. Tempat untuk mengajar dapat dilakukan disekitaran
daerah yang mayoritas penduduk kurang mampu, baik itu ada tempat kosong untuk
mengajar, dan atau sewa tempat, situasional. Program ini berjalan untuk
memberikan pengajaran bagi para kaum kurang mampu, memberikan pelatihan,
pengarahan keterampilan sesuai dengan
skill yang di miliki individu. Individu yang berkembang pesat dan menyadari
potensinya tersebut, akan di labeli sertifikasi layak dan siap untuk dunia
kerja bagi umur yang layak untuk kerja, dan untuk para anak-anak yang masih
dibawah standar umur untuk kerja, dilabeli sertifikasi layak untuk melanjutkan
sekolah, baik di sekolah umum ataupun paket, para lulusan program ini yang
telah dilabeli sertifikasi tersebut akan dibiayai untuk segala aktivitas
akademis ataupun non-akademis oleh pemerintah. Bagi yang belum dapat
sertifikasi, bisa melanjutkan program ini dengan batas waktu maksimal 3 tahun,
dengan harapan selama 3 tahun tersebut para pelajar sudah memiliki bekal yang
cukup setidaknya dari segi pola pikir.
Dengan begitu, pengembangan dan pemberdayaan
manusia terhadap masyarakat kurang mampu dapat dikendalikan secara menyeluruh
dengan aktivitas yang dilakukan oleh Mahasiswa/i sebagai Kaum Muda Intelektual.
Harapannya masyarakat kurang mampu tersebut dapat merasakan euforia dalam
belajar, sehingga mereka mempunyai hak yang sesuai di usianya masing-masing.
Mendidik khususnya anak-anak adalah investasi jangka panjang untuk generasi
penerus bangsa, program ini sangat mengharapkan para lulusannya tersebut dapat
lulus dengan pemikiran yang lebih luas dan matang, karena pola pikir adalah hal
terpenting dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Sekaligus juga program
ini sebagai ajang Bela Negara oleh para Kaum Muda khususnya Kaum Muda
Intelektual.
Daftar
Pustaka
https://www.bps.go.id/dynamictable/2016/01/18/1121/indeks-kedalaman-kemiskinan-p1-menurut-provinsi-2007---2017.html 27 Maret 2017
https://www.bps.go.id/dynamictable/2016/06/16/1211/indeks-pembangunan-manusia-menurut-provinsi-2010-2016-metode-baru-.html 27
Maret 2017
Ihde, Don, (2008), “Filsafat Teknologi”,
Jogjakarta: Penerbit Kanisius.
Widodo, Suwarno, (2011), “Implementasi Bela Negara
untuk mewujudkan Nasionalisme”, Jurnal Ilmiah Civis, Volume 1.
Siswanto, Tito, (2013), “Optimalisasi Sosial Media
sebagai media pemasaran Usaha Kecil Menengah”, Jurnal Liquidity, Volume 2,
Halaman 80-86.