POTENSI ENERGI INDONESIA BERSINERGI DENGAN PERAN MASYARAKAT DAN KAUM MUDA INTELEKTUAL SERTA MENJAGA KETAHANAN ENERGI INDONESIA


Energi adalah bagian utama untuk semua kegiatan makhluk hidup, termasuk manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selalu memerlukan energi. Energi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja oleh karena itu sifat dan bentuk energi dapat berbeda sesuai dengan fungsinya, antara lain energi kinetik, potensial, termal, kimia, nuklir dan energi elektromagnetik. Untuk kebutuhan manusia konsumsi energi dapat dibedakan atas beberapa kelompok sektor, yaitu kelompok pembangkit listrik, pemakaian industri, transportasi, komersial, dan rumah tangga. Sumber-sumber energi yang utama ialah air, angin, batubara, minyak bumi,gas alam, matahari, uranium, bio masa dan bio gas. Energi yang terdapat di dalam bumi ini pun memiliki manfaat yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup kedepannya, energi kinetik yang berhubungan dengan gerak benda seperti pengering pada mesin cuci, semakin cepat putaran akan semakin cepat juga pakaian akan kering, energi listrik yang biasa digunakan untuk segala aktivitas kita dalam bekerja, seperti dimalam hari penggunaan listrik untuk penerangan, mengisi daya baterai hangphone dan lain-lainnya.
   Pada saat ini, Indonesia menjadi negara dengan konsumsi energi yang cukup tinggi di dunia. Data menunjukan yang berasal dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% per tahun, angka ini berada diatas pertumbuhan konsumsi energi dunia yaitu sebesar 2,6% per tahunnya. Dilansir dari salah satu sumber, Indonesia pada tahun 2015 di sektor transportasi merupakan konsumsi energi terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya, yakni sebesar 45,5%. Hal ini menunjukan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap penggunaan energi minyak bumi masih sangat besar. Sedangkan persediaan energi minyak bumi kurang lebih akan menipis dengan rentang waktu 12-15 tahun kedepan, begitu juga dengan energi gas yang diprediksi akan menipis pada 50 tahun kedepan. Penggunaan energi minyak bumi dan gas secara berlebihan juga akan mempengaruhi permasalahan lingkungan seperti meningkatnya kadar CO2 di udara. Kadar tersebut adalah gas rumah kaca yang bisa memberikan dampak penipisan terhadap lapisan ozon, dan kadar tersebut sebagian besar diciptakan dari transportasi.
   Indonesia merupakan salah satu pemain utama dalam perekonomian energi dunia. Hal ini dapat dilihat dari peranan Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia, Indonesia kaya akan cadangan energi batu-bara diperkirakan sebesar 36,5  milyar ton, dengan sekitar 5.1 milyar ton dikategorikan sebagai cadangan terukur. Sumber daya ini sebagian besar terdapat di Kalimantan sebesar 61%, di Sumatera sebesar 38% dan sisanya tersebar di wilayah Indonesia. Hal ini merupakan bukti bahwa Indonesia mempunyai harta terpendam dan berlimpah yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan energi kedepannya. Namun, permasalahannya ialah dampak dari pemanfaatan batu-bara untuk kelangsungan energi di wilayah itu, pemanfaatan batu-bara akan berdampak terhadap lingkungan hidup di wilayah tersebut karena imbas dari pollutan yang dihasilkan dari industri batu-bara tersebut. PLTU Batubara dengan kapasitas 500 MW menimbulkan 50 kali lebih besar dibanding energi lainnya, untuk rata-rata kapasitas PLTU di Indonesia sebesar 100-300 MW dan diatas 800 MW untuk daerah pulau Jawa. Hal ini tentunya akan merusak ekosistem di Indonesia dan mengkhawatirkan akan berdampak lanjut terhadap kehidupan sosial dan ekonomi Indonesia.
   Menurut saya pribadi, untuk pemanfaatan energi yang cocok untuk di implementasikan di Indonesia ialah energi terbarukan yakni energi panas bumi (geothermal energy). Energi panas bumi ini merupakan energi yang mulai dipergunakan untuk daya penyuplai listrik dunia. Energi ini tercipta dari aktivitas lempengan mantel bumi yang mengalami geseran dan menimbulkan adanya gerakan atau aktivitas tektonik dan juga aktivitas magma gunung didalamnya. Salah satu negara yang memiliki jumlah gunung terbanyak di dunia tentunya ialah Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki 29 GigaWatt pada energi panas bumi, sedangkan kapasitas energi panas bumi di dunia sebesar 115 GigaWatt yang artinya sekitar 40% energi panas bumi di dunia dimiliki oleh Indonesia. Hal ini pastinya akan sangat membantu dari segi persediaan cadangan energi tak terbarukan yang semakin hari semakin menipis pastinya. Namun, penggunaan atau pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia ini hanya sebesar 5% saja. Presentase yang kecil bila dilihat dari daya yang dimiliki oleh Indonesia terhadap energi panas bumi tersebut. Namun pemanfaatan potensi panas bumi mulai semakin digenjot setelah adanya perubahan peraturan yang menyatakan bahwa pemanfaatan panas bumi bukan lagi sebagai kegiatan pertambangan dan eksplorasi, beberapa perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) mengambil beberapa tempat yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi.
   Pemanfaatan terhadap energi panas bumi di Indonesia sebenarnya sudah mulai di garap, namun dalam pemanfaatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, untuk skala maksimal dalam pemanfaatannya, negara harus mengeluarkan kurang lebih $15 miliar atau sekitar 30 triliun. Maka dari itu pemerintah sedang mengevaluasi hal tersebut, dan kesimpulan sementara ialah pemerintah secara perlahan membangun daerah-daerah yang berpotensi untuk dimanfaatkan daerahnya untuk pemanfaatan energi panas bumi tersebut. Beberapa daerah panasbumi di Indonesia yang telah dieksploitasi untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik adalah: Sibayak (Sumatra Utara), Salak, Karaha-Bodas, Kamojang, Wayang Windu, Darajat (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah) dan Lahendong (Sumatera Utara) dengan total kapasitas sebesar 822 MW. Sementara daerah potensial yang sedang dieksplorasi antara lain: Ulubelu (Lampung), Bedugul (Bali), Mataloko (Nusa Tenggara Barat), Kotamubago (Sulawesi Utara) dan lainnya. Salah satu daerah potensial yang sedang di eksplorasi ialah NTB (Nusa Tenggara Barat), daerah tengah ke timur Indonesia merupakan daerah yang sulit sekali dalam pemerataan listrik, contohnya itu NTB, wilayah ini beberapa daerahnya masih cukup sulit dalam pengembangan listrik karena tidak adanya akses listrik yang memadai, masyarakat NTB  dalam penggunaan listriknya saja masih dibatasi, listrik menyala hanya dalam waktu di jam sibuk saja, pagi hari dan sore, malam hari pukul 22:00 WITA sudah dipadamkan , mengingat cadangan listrik di daerah tersebut masih sangat terbatas. Maka dari itu, diharapkan daerah-daerah potensial dalam produktivitas energi panas bumi segera dioptimalkan guna mendukung segala aktivitas masyarakat disana, dari segala aspek pastinya akan berdampak signifikan, seperti aspek ekonomi, diharapkan dengan pemanfaatan energi panas bumi disana akan mempengaruhi dari segi aspek ini, masyarakat bisa menggunakan berbagai alat untuk mendukung segala usaha yang bersifat meraih pendapatan, melihat juga daerah tersebut memiliki sumber daya alam yang cukup berprospek dalam pemanfaatannya yang bisa menunjang perekonomian rumah tangga. Permasalahan tersebut tidak hanya ada di NTB saja, NTT (Nusa Tenggara Timur) juga memiliki hal yang sama, apabila eksplorasi didaerah potensial di wilayah Bali dan NTB sudah cukup baik, NTT yang juga memiliki sumber daya alam yang luar biasa juga terkena imbasnya, melihat pula tersebut diapit daerah potensial akan energi panas bumi.
   Kendati demikian, dukungan dari masyarakat juga dianjurkan dalam menjaga energi di Indonesia. Beberapa program yang biasa diadakan oleh pemerintah dalam penghematan energi kerap dilakukan salah satuny contohnya ialah yang dilakukan oleh kota Depok, yang menjalankan program bernama Switch Off Earth Hour Depok 2018 yang bertujuan untuk penghematan listrik daerah dengan cara mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak dibutuhkan selama 1 jam. Tidak hanya masyarakat luas, peran generasi muda millenial seperti sekarang ini sangat diperlukan, khususnya para Generasi Muda Intelektual yakni para Mahasiswa/i. Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa, yang memiliki andil yang cukup vital dalam melanjutkan kinerja para pendahulunya yang pastinya diharapkan akan membawa Bangsa dan Negara ke arah yang lebih baik lagi. Kaum muda di Indonesia memiliki presentase yang cukup besar, yakni dimana kaum perempuan yang berumur 10-24 tahun dan belum kawin memiliki presentase 87.99%, sedangkan laki-laki yang berumur 10-24 tahun dan belum kawin memiliki presentase sebesar 45,98%. Sekitar 4,8 juta kaum muda yang berstatus sebagai Mahasiswa/i di Indonesia, Mahasiswa merupakan kalangan kaum muda yang bisa disebut sebagai Kaum Muda Intelektual, dimana Mahasiswa/i merupakan sebagai pemuda yang terdidik, terpelajar, dan terbimbing untuk mengembangkan suatu pola pemikiran. Apalagi melihat Mahasiswa/i sekarang yang sangat mudah mendapatkan segala informasi dari penjuru dunia, yang bisa memberikan implikasi terhadap pemikiran untuk para Mahasiswa/i dalam menganalisa suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan.
   Melihat banyaknya Mahasiswa/i yang menempuh pendidikannya, maka peran mahasiswa dalam ketahanan energi di Indonesia  bisa memberikan pengaruh yang signifikan. Mahasiswa/i bisa menjadi lidah penyambung antara pemerintah ke masyarakat dan juga sebaliknya, memberikan penyuluhan bertahap terhadap pentingnya ketahanan energi merupakan suatu hal yang penting, memberi informasi dari suatu hal yang kecil pun juga harus di implementasikan guna menjaga cadangan energi, seperti memberikan informasi bahwa penggunaan charge handphone, laptop, powerbank yang tidak dicabut termasuk dalam Drakula Listrik, yang berarti benda-benda tertentu yang terpasang dalam terminal listrik dan tidak berfungsi pada semestinya, dapat menghisap sedikit demi sedikit listrik yang berdampak pemborosan listrik yang sia-sia dan pemborosan pengeluaran terhadap listrik, dan informasi lainnya seperti penghematan penggunaan kulkas yang harus dibersihkan coilnya yang berpengaruh terhadap hemat listrik, penggunaan mesin cuci yang dianjurkan untuk menjemur baju saja dan tidak mengeringkan baju di mesin cuci dan lain sebagainya. Penyuluhan juga bisa dilakukan secara berkala di setiap sekolah, guna menanamkan sifat sadar akan penggunaan energi. Mahasiswa/i disini saya rasa tugas pokoknya untuk memberikan himabauan kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga energi, menjadi role mode untuk masyarakat dengan program sosialnya, menginvestasikan ilmu sedari dini untuk masyarakat. Dengan demikian diharapkan akan kesiapannya bagi para masyarakat dalam menjaga ketahanan energi untuk masa depan.


DAFTAR PUSTAKA

Sulasno, (2009), “Teknik Konversi Energi Listrik dan Sistem Pengaturan”, Yogjakarta: Graha Ilmu.

Postingan Populer